Home > Kisah Sukses > Resensi Kisah Sukses “Tob”, CEO Tao Kae Noi

Resensi Kisah Sukses “Tob”, CEO Tao Kae Noi

The “wealth” is only an “end of journey”

The “perseverance” is actually the “key” to “success”

Tulisan ini saya tulis setelah saya membaca mini pocket book Tao Kae Noi, yang didapat sebagai hadiah pembelian Tae Kae Noi Seaweed.

Saya sangat suka memakan makanan sehat, salah satunya snack seaweed yang terbuat dari rumput laut. Setelah membaca kisah sukses sang CEO, Ittipat Peeradechapan, saya tertarik menulis resensi atau ringkasannya. Semoga kisah hidupnya yang sangat menginsipirasi dan memotivasi pembaca termasuk saya, menginspirasi dan memotivasi setiap pembaca artikel ini juga.

Image

Sang CEO, Tob berhenti kuliah karena memiliki masalah dengan arus kas dan memutuskan untuk berbisnis chesnut. Meski tidak kuliah namun ia bangga karena meraih kebebasan finansial, tidak perlu meminta uang kepada orang tuanya sejak masih duduk di bangku SMA.

Setiap hari, ia bangun pukul 7 pagi, mandi, berpakaian, dan bersiap-siap untuk pengiriman chesnut. Setelah memperluas cabang dan mempekerjakan lebih banyak karyawan, ia bukan hanya memberikan penjelasan singkat kepada stafnya tentang lokasi pengiriman chesnut dan seberapa banyak, tapi sebagian kantung, ia kirimkan sendiri sambil memeriksa cabang di waktu yang sama.

Ia terus melakukan perjalanan dengan jarak tempuh lebih dari 100 kilometer dan dari kota ke kota lain untuk pengiriman barang. Ia pulang ke rumah pukul 9 malam tiap hari. Ia tidak merasa bosan dan merasa bergairah.

Selama berbisnis selama tiga tahun awal, ia tidak pernah menemui teman-teman dan membeli pakaian baru. Ini karena:

“Nilai” dari uang yang mudah diperoleh benar-benar berbeda dari uang yang susah didapatkan.

Keduanya tetap sama-sama “uang”.

Keduanya dapat membayar tagihan.

Namun, “nilai” dalam pikiran kita berbeda.

Uang yang didapatkan dengan berpeluh keringat membuat Anda lebih hati-hati dalam membelanjakannya karena Anda menyadari betapa sulitanya untuk mendapatkan setiap “bath”.

Saat usianya 19 tahun dengan keuntungan bisnis chesnut mencapai 300.000 – 400.000 bath/bulan dan berkembang hingga 25 cabang.  Tae Kae Noi mengalami masalah saat “Lotus Tesco” mengubah tim eksekutif dengan orang asing bertanggung jawab atas ruang sewa. Menurut standar Barat maka asap dan bau dari proses pemanggangan dalam toko menjadi masalah. Lotus Tesco menginginkan Tae Kae Noi berjualan di tempat parkir. Berbagai usaha CEO untuk mengatasinya dengan memasang cooker hood dan mengecat langit-langit di malam hari setelah department store tutup hanya memperpanjang kehidupan “Tae Kae Noi Chestnut”  berhasil beberapa waktu.

Hingga akhirnya Tae Kae Noi terpaksa melakukan pemanggangan di tempat yang berbeda dengan tempat berjualan. Namun, karena tidak segar seperti makanan cepat saji. Maka solusi berikutnya dalah menyewa ruang lebih di “Central” dan “The Mall”. Dalam negosiasi, kelemahan produknya adalah adanya asap selama proses pemanggangan dan mereka setuju karena mereka melihat hasil penjualan yang baik.

Suatu pagi karena lapar dan melihat “Dairy Queen” yang menjual es krim, juga menjual sosis. Mulailah ia berpikir untuk menambahkan lini produk dan menawarkan lebih banyak pilihan bagi pembeli. Mulai dari menjual “kesemak Cina kering” yang meningkatkan total penjualan kotor dan sekitar 20%-30% dari penjualan kotor toko, namun masih tidak bisa menebus kehilangan penjualan.

Dari pacarnya yang memakan rumput laut kering dan mencoba keluarganya makan serta dirasa lezat. Ia meminta pacarnya terus membeli untuk keluarganya namun ternyata produknya habis di pasar dan tidak bisa dibeli lagi. Barulah Tob berpikir untuk memproduksi rumput laut goreng yang lezat dan gurih. Ia cari sendiri cara menggoreng dan bumbunya sehingga lezat dan garing. Ini menjadi produk yang benar-benar mengubah hidup Tob.

Percaya bahwa “masalah”adalah “kesempatan”.

Teorinya yang salah tentang strategi “pemasaran gerilya” yang ia tonton dari wawancara pengusaha besar di TV, justru membuatnya sukses. Dia pikir 7-Elevan yang mengililingi orang-orang karena letaknya yang berdekatan merupakan “pemasaran gerilya”. Padahal teori yang benar tentang “pemasaran gerilya” adalah menembus pasar di daerah provinsi pertama terlebih dahulu. Ini menciptakan popularitas di seluruh kota sebelum menuju ke ibukota.

Tafsirannya ke dalam kalimat yang sama sekali berbeda, tetapi “cara berpikir”-nya yang benar justru membawanya mencapai sukses.

“Teori” yang salah namun pemikiran yang “Benar”

Selanjutnya ia mencoba menghubungi Nona Pu, 7-Eleven dan menjadwalkan waktu meeting dari jauh-jauh hari. Namun pada waktu yang ditentukan dari pukul 13.00 sampai dengan 14.00, semuanya tetap hening dan ia tidak bisa bertemu dengan Nona Pu, maka ia meninggalkan produk seaweed di meja resepsionis dan memberitahukannya kepada Nona Pu.

Setibanya ia di rumah, telepon berdering dan itu telepon dari 7-Eleven. Nona Pu memberitahukan bahwa produk tersebut sangat lezat dan dia membiarkan manajemen mencicipinya, dan semua orang bilang produknya sangat lezat. Tae Koi Noi akan dijual di 7-Eleven dan Tob ditanya apakah siap untuk menjual di 3000 cabang 7-Eleven. Tob kaget karena berpikir untuk memulai dari 200 atau 300 cabang terlebih dahulu, tapi kesempatan tidak ia lepaskan begitu saja maka ia jawab siap.

Kemudian, Tob mulai dengan pembangunan pabrik baru dengan tergesa-gesa demi memenuhi standar QC dari 7-Eleven. Tidak cukup sampai situ, kapasitas pabriknya ternyata tidak mampu mencapai jumlah order yang diminta Nona Pu, yaitu sebanyak 400 kotak Classic Flavor Seaweed dalam waktu 7 hari. Tob ingat akan ancaman Nona Pu bahwa distribusi kelompok barang pertama tersebut harus ditunda ke bulan berikutnya jika tidak dikirimkan tepat waktu. Dan jika masa berlaku produk lebih singkat 80% sebagaimana yang telah ditentukan, mereka akan menolak produk tersebut. Hal ini berarti jika Tob tidak bisa mengirimkan kelompok barang tersebut tepat waktu, maka ia harus menjualnya di tempat lain.

Namun karena bantuan keluarga, teman-teman kakaknya, dan usahanya yang keras dan tanpa rasa lelah untuk bergerilya memenuhi order – sampai tidak tidur 2 malam sebelum waktu pengiriman, Tae Kae Noi mampu mencapai 400 kotak dalam 7 hari. Hanya saja ia terlambat 2 jam dari waktu pengantaran. Karena keterlambatan itulah ia harus bongkar barang di saluran 11. Dengan rasa takut akan ancaman Nona Pu maka ia mencoba meminta bantuan dari petugas dengan keadaan mimisan tanpa ia sadari. Ia baru sadar saat kakaknya memanggil dan memberi ia tissu untuk mengusap mimisan terlebih dahulu sebelum klarifikasi kepada manajer distribusi 7-Eleven atau “DC” karena keterlambatannya. Untunglah ia hanya dikenakan denda 2.000 bath karena keterlambatannya.

Pada hari berikutnya, Nona Pu menelepon Tob dan menekankan aturan 7-Eleven akan meninjau kembali penjualan dalam 3-4 bulan berikutnya. Jika penjualan barang berada di bawah 30 bungkus/cabang/bulan, Tae Kae Noi akan dikeluarkan dari toko. Dalam keadaan stressnya dan ia tidak bernegosiasi karena ia tahu itu adalah aturan 7-Eleven, memeriksa semua penjualan di 7-Eleven yang ada di sepanjang jalan dari rumahnya ke pabrik dan dari pabrik ke rumahnya. Karena perilakunya yang memeriksa penjualan itulah, ia berkenalan dengan Jeab yang menyarankannya untuk menggunakan gantungan pameran dari plastik di samping rak untuk meningkatkan penjualan dan Tob lakukan sesuai dengan saran Jeab. Hasilnya penjualan di 7-Eleven terus membaik.

Namun sistem pembayaran 7-Eleven yang mengandalkan sistem kredit 60-hari, menyebabkan ia butuh uang tunai. Sehingga produksi dan distirbusi untuk Toey Khiong Market yang membayar tunai ia dahulukan.

Selama 3 tahun ia membeli kurang dari 10 kemeja dan hanya mengenakan kemeja lama. Hidupnya adalah tentang pekerjaan, pekerjaan, dan hanya pekerjaan.

Selama periode pertama, ia mengeluarkan beberapa produk sebagai sampel gratis dan ditujukan kepada wanita karena mereka selalu berbagi dengan teman-teman mereka. Jika mereka merasa sampel tersebut sangat lezat, mereka akan memberitahu orang lain.

Ini adalah cara yang paling cocok untuk  “makanan”

Pertemuannya dengan Khun Tan di Pasar Chatuchak membuatnya mulai berpikir tentang sebuah produk baru untuk diversifikasi resiko.

Bisnis tidak harus bertahan dengan hanya satu produk.

Hal ini karena jika produk tersebut menghadapi beberapa masalah, perusahaan dapat runtuh.

Saat ia bersama keluarga memberi penghargaan kepada diri sendiri dengan pergi ke Jepang, maka terpikirlah untuk mencampur tepung dengan rumput laut dan mengggorengnya. Inilah produk baru Tae Kae Noi: “Tempura Rumput Laut”.

Semua perkataan orang sukses maupun konsumen menjadi ‘guru’ Tob dan mendorongnya membuat produk baru dan ide baru untuk marketing, hingga akhirnya sekarang bisnisnya melampaui mimpinya.

Kita hanya perlu melakukan sesuatu dengan serius, dengan cinta dan gairah.

Yang paling penting, ketika kita menghadapi hambatan, kita jangan pernah menyerah.

Tob percaya bahwa ‘derita’ atau ‘senyum’ di masa lalu membentuk dirinya hari ini.

Kita harus selalu berpikir bahwa “kekalahan adalah guru, dan kemenangan adalah juga guru bagi kita.

Segala sesuatu di dunia adalah guru.

  1. 7 August 2013 at 9:01 pm

    bagus yang, kekalah adalah guru, kemenangan adalah guru

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: